Sabtu, 15 Juni 2013

Teman Tak Mengenal Derajat 
Karya : Tsabita Al Asshifa Hadi Kusuma


Aku dan Zarra berjalan bersisian menuju halte bus, dan duduk di kursi tunggu. Kulirik jam tanganku dan melihat bahwa hari sudah menunjukkan pukul lima sore. Seusai kuliah hari ini, aku berencana untuk pergi ke rumah Zarra untuk menyelesaikan tugas esai yang belum selesai.
    “Nia, lo masih inget nggak, sama Farah?” tanya Zarra.
    “Farah yang mana? Farah yang gue kenal kan banyak banget.” Jawabku, mencoba mengingat-ingat.
    “Farah temen SMA kita dulu ....” ujar Zarra.
    “Hmm .. yang mana, sih?” aku kembali memeras otak.
    “Heelllooo ... Valenia, masa lo nggak inget, sih? Farah yang suka ngejek gue dulu itu!” kata Zarra.
    Mataku langsung melebar. “Oooh, dia! Emangnya dia kenapa?”
    “Nggak ada. Duduk di halte bus di sini ngingetin gue sama kejadian dulu itu ....” jawab Zarra, sambil mengayun-ayunkan kakinya yang tergantung.
    Aku tersenyum. Memang, ada satu kejadian di halte bus ini yang tak akan pernah kulupakan. Yah, meskipun peran utama dari kejadian itu bukan aku, tapi aku juga terlibat dalam kejadian tersebut. Kutatap langit yang memancarkan semburat kemerahan. Dalam sekejap saja, pikiranku sudah menerawang pada kejadian masa lalu tersebut ...
***
Yeeeeyyyy!!! Akhirnya aku naik kelas tiga!!!’ aku bersorak dalam hati.
    Kutatap gedung SMA Batavia—sekolahku—dengan senyum yang mengembang di bibirku. Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah setelah liburan panjang selama dua minggu. Bedanya, hari ini aku sudah kelas tiga. Kelas yang penuh dengan hari-hari perjuangan, yang menuntutku untuk tidak lengah lagi dalam hal pelajaran.
    Akhirnya aku tiba di depan kelas baruku. Kulangkahkan kakiku memasuki kelas tersebut. Raut wajahku yang mulanya ceria, langsung berubah 90 derajat begitu melihat meja-meja yang sudah terisi oleh para siswa yang sibuk mengobrol. Tatapanku langsung jatuh pada sebuah meja kosong yang berada di pojok kelas—yang di sebelahnya duduk seorang gadis berkacamata dengan rambut hitam panjangnya yang tergerai lurus. Ia tampak tengah membaca buku dengan serius.
    Aku berjalan menuju meja kosong tersebut “Boleh gue duduk di sini?” tanyaku, menunjuk kursi di sebelah gadis tersebut.
     Gadis itu menoleh, dan mengangguk kaku, sebelum akhirnya kembali membaca bukunya.
   Langsung saja, aku duduk di kursi tersebut. Tiba-tiba, kulihat seluruh siswa yang berada di dalam kelas tengah menatapku dengan raut wajah yang tak terbaca. Sedetik kemudian mereka sudah berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arahku dan gadis di sebelahku, dengan tatapan melecehkan.
    Aku yang merasa tak enak, segera menjawil bahu seorang cewek yang duduk di depanku. Ia me-noleh dan menatapku dengan bingung. “Kenapa sih, mereka pada natap gue kayak gitu?” tanyaku, polos.
    Cewek itu tersenyum simpul. “Mereka kasihan sama elo karena lo udah duduk sama anaknya koruptor!” kemudian, ia tertawa bersama teman sebangkunya.
    Hah?! Anak koruptor?! Anak seorang koruptor yang baru-baru ini menjadi obrolan hangat di TV?! Aku segera menoleh ke arah gadis di sebelahku yang masih asyik membaca bukunya tanpa memedulikan ejekan cewek tersebut. Tapi, bisa kulihat bahwa ia tengah berusaha untuk bersabar.
    Aku menghela nafas panjang. Siswa di kelas ini benar-benar aneh. Yang koruptor itu kan bapaknya, bukan anaknya! Kenapa malah anaknya yang kena batunya? Kan belum tentu Si Anak punya jiwa koruptor juga!
    Aku memiringkan tubuhku, dan mengulurkan tanganku untuk berkenalan. “Kenalin, nama gue Valenia Sartika Ningrum. Lo bisa manggil gue dengan ‘Nia’ aja, kok ....”
    Gadis itu menoleh dengan raut wajah yang tampak terkejut. “Gu-gue, Maizarra Ranifah. Lo bisa manggil gue de-dengan nama ‘Zarra’ ...” ia menjawab dengan gugup, sambil membalas uluran tanganku.
    “Ya ampun, lo kok mau-mau aja kenalan sama dia?” tanya cewek di depanku.
    “Problem?” aku mengangkat sebelah alisku.
    Cewek itu hanya merengut dan kembali mengobrol bersama temannya.
    “Maaf. Lo pasti malu kenalan sama orang kayak gue ....” kata Zarra, menundukkan kepalanya.
    “Udahlah, lo jangan merasa bersalah gitu. Gue oke-oke aja kok, kenalan sama lo. Lagian, lo kan nggak salah ....” aku menepuk bahunya dengan pelan.
    Zarra langsung mengangkat kepalanya dengan cepat. “Jadi lo nggak malu temenan sama gue? Makasih, ya. Sejak bokap gue masuk penjara, gue nggak punya teman sama sekali ....” ia tersenyum tulus.
    Aku balas tersenyum. “Nggak pa-pa, kok.”
#
Sejak hari itu, aku selalu mengobrol dengannya, menemaninya ke kantin, meski hal itu bisa membuatku dijauhi teman-teman sekelasku yang sekarang malah ikut-ikutan mengejekku. Tapi, aku tak peduli. Menurut kamusku, teman tak mengenal derajat!
    Karena akrab dengan Zarra, akhirnya aku sadar bahwa Zarra itu orangnya friendly dan polos banget! Dia juga orang yang jujur. Terlampau jujur malah. Dan ...
    “VALENIA!”
    Aku tersentak. Lamunanku pun buyar seketika. Ya ampun, mampus aku! Sekarang kan lagi pelajarannya Bu Darmi, si guru matematika paling killer yang pernah aku temui! Dan disaat ia menerangkan, aku bisa-bisanya melamun?! Ya ampuu ... nn. Aku pasti kena hukum!
    “I-iya, Bu?” tanyaku, menatap wajah Bu Darmi dengan raut cemas.
    “Tolong katakan kembali apa yang saya terangkan!” perintahnya.
    Aku langsung panik kuadrat.
    “Sst, Nia! Lo tinggal jelasin aja rumus yang dipake dalam soal yang kita bahas sekarang ...” bisik Zarra, menggeser kursinya untuk lebih dekat dengan kursiku.
    “ZARRA! KAMU NGAPAIN?!” teriak Bu Darmi.
    Zarra terkejut, tapi ia segera membalas, “Saya ... saya nunjukin dia, Bu.”
    Aku melongo seperti orang bego, mendengar kepolosan Zarra.
   Wajah Bu Darmi langsung memerah menahan amarah. “Kalau begitu, katakan kembali apa yang saya katakan tadi!”
    Zarra berdiri, dan bergaya meniru Bu Darmi. “VALENIA! Tolong katakan kembali apa yang saya terangkan!”
        Spontan, semua siswa di kelasku tertawa mendengarnya.
    “Kamu kenapa malah mengucapkan apa yang saya katakan pada Valenia tadi?!” tanya Bu Darmi, semakin berapi-api.
    “Kan Ibu tadi nyuruh saya untuk mengatakan apa yang Ibu katakan tadi ....” sahut Zarra, polos.
    Aku langsung melengos. Ya ampun, Zarra ... lo bego atau apa, sih?
#
Begitu jam istirahat tiba, aku segera mengajak Zarra untuk belanja di kantin, seperti biasanya. Dalam perjalanan menuju kantin, aku dan Zarra dihadang oleh seseorang yang sangat tidak ingin kutemui hari ini; Farah, anak paling mantik dan Ratu Gosip di sekolahku.
    “Nia, lo sadar nggak sih, siapa lo sebenarnya?” tanya Farah.
    “Tau. Gue temennya Zarra. Masalah buat lo?” balasku.
   “Heh! Elo itu anaknya direktur perusahaan terkenal di Jakarta! Seharusnya lo nggak bergaul sama orang kayak dia! Udahlah bapaknya koruptor, jangan-jangan dia juga punya jiwa koruptor! Hahahaha!” Farah tertawa, bersama teman-temannya yang selalu mengikutinya ke mana pun ia pergi.
    Zarra langsung tertunduk.
    “Iya! Gue memang anaknya Pak Direktur! Tapi gue nggak sesombong elo. Menurut gue, teman itu tak mengenal derajat! Sementara lo? Orang yang mau temenan sama elo aja harus elo seleksi!” ketusku.
    “Heh, elo jangan macam-macam sama gue, ya! Sebaiknya lo hati-hati, karena temen lo yang satu ini bisa aja membuat elo dicap sebagai pendukung koruptor sama seisi sekolah ini!” ancam Farah.
    “Gue nggak peduli apakah Zarra anak koruptor atau anak presiden sekali pun. Lagian, yang salah itu kan bapaknya! Bukan Zarra!” aku menatap Farah, dingin.
    Farah tersenyum sinis. “Fine! Lo kayaknya lebih milih anak koruptor ini daripada kami. Tapi, gue sarankan sebaiknya lo cepat jauhin nih anak, sebelum dia membuat elo malu!”
    “Terima kasih atas sarannya, tapi maaf. Gue lebih memilih bergaul sama orang yang baik-baik!” aku segera menarik tangan Zarra menuju kantin, meninggalkan Farah bersama teman-temannya.
    “Nia ... maafin gue, ya. Terima kasih juga karena masih mau temenan ama orang kayak gue ....” kata Zarra, dengan kepala masih menunduk. Ia tampak tengah menahan tangis.
    “Udahlah, lo nggak usah minta maaf. Kan lo nggak salah.” Ujarku.
    “Nia,”
    “Ya?” aku menoleh menatap Zarra.
    “Ada yang mau gue ceritain ke elo.”
#
Believe it or not, tapi hari ini seisi sekolah benar-benar heboh! HEBOH! Oke, oke, slow down. Jadi gini, kemarin Zarra cerita bahwa sebenarnya ayahnya tidak bersalah. Ayahnya telah dijebak oleh temannya sendiri, yang mengakibatkan ia akhirnya dituduh menjadi seorang koruptor.
    Tapi, tentu kebohongan tak akan pernah bisa tersembunyi. Lambat laun, akhirnya kebenaran ter-bongkar juga. Teman Ayah Zarra tersebut akhirnya ditangkap polisi dan dihukum dengan hukuman yang berat. Ayah Zarra pun akhirnya dibebaskan.
    “Nia ...”
   Dan ternyata oh ternyata, teman Ayah Zarra tersebut ternyata Ayah Farah! Farah, yang biasanya selalu mengejek dan mencaci Zarra, kini bertukar posisi dengan Zarra yang kini menjadi cewek populer di sekolah. Farah-lah yang menjadi bahan ejekan seisi sekolah sekarang. Bahkan, dayang-dayangnya dulu yang selalu setia mengikutinya, malah meninggalkannya dan mulai berbaik-baik hati dengan Zarra untuk nebeng popularitas!
    “Nia!”
     Wah, semuanya benar-benar terjadi begitu cepat dan di luar dugaan. Hmm, aku jadi penasaran bagaimana reaksi Farah mengenai hal ini? Ia tentu menyadari bahwa dirinya kini kena KARMA!
    “NIA!!!”
    Teriakan seseorang membuatku tersentak kaget. “Eh, iya, iya.” Kutatap Zarra yang kini tengah du-duk di sebelahku. Kini, kami tengah duduk di kursi tunggu halte, menunggu bus tiba. Arah rumahku dengan rumah Zarra searah. So, hal itu bisa membuatku selalu pulang bareng dengan Zarra tiap pulang sekolah.
    “Tuh liat,” Zarra menelengkan kepalanya ke kiri sedikit, memberi kode bahwa ada seseorang di be-lakangku.
    “KYYAAAAAAA!!!”
   Belum sempat kuberbalik, aku mendengar suara teriakan yang menggema. Aku segera berbalik, dan mendapati Farah tengah berlari, menjauhi seekor angsa yang mengejarnya dengan sayap yang terbentang lebar. Di belakang angsa tersebut, tampak seorang nenek tua mengejar angsa tersebut dengan langkah yang tertatih-tatih.
    Farah masih berlari ketika nenek pemilik angsa itu berhasil menangkap angsa yang mengejar Farah. Tiba-tiba, kaki Farah tersandung, dan ia pun terjatuh tepat di hadapanku.
    Aku dan Zarra mencoba menahan tawa, lalu membantu Farah untuk berdiri.
    “JANGAN SENTUH GUE!!!” bentak Farah, menepis tanganku dan tangan Zarra.
    Aku dan Zarra hanya membeku.
    Farah berdiri sendiri, lalu menatap Zarra dengan tatapan membunuh. “PUAS?! Lo udah puas, kan? Lo pasti seneng kan, ngeliat gue bertukar posisi sama elo! Lo pasti seneng kan karena orang yang udah ngejek lo dulu, sekarang udah merasakan apa yang dirasakan lo dulu?! IYA KAN?!” teriak Farah.
    Zarra terkejut bukan main. “Farah, gue nggak pernah berbahagia di atas penderitaan orang. Justru dari awal gue juga nggak mau, kalau hal ini bisa terjadi sama elo ....”
   “Alah! Ngaku aja kali, kalau lo itu seneng! Gue bisa liat kok!” setelah berkata demikian, Farah berlari meninggalkanku dan Zarra, setelah memperlihatkan raut wajah sinisnya yang membuat bulu kudukku merinding, takut kalau ia sampai mencekikku.
    “Ra, Farah kayaknya masih belum terima ya, kalau dia itu sekarang kena karma? Jangan-jangan, dia nggak sadar kalau dia itu udah kena karma!” kataku.
    “Hus! Lo jangan bicara kayak gitu, dong! Gue nggak tanggung jawab ya, kalau karmanya Farah bisa berpindah ke elo!” tegur Zarra.
    Aku hanya nyengir lebar.
#
Sejak kejadian hari itu, Farah tak pernah lagi muncul di hadapanku atau pun Zarra. Dari info yang aku dapat, Farah pindah ke kampungnya bersama mama dan kedua adiknya di Pekanbaru.
    Yah, aku rasa, kalau pun kami bertemu lagi, mungkin ia akan memperlihatkan wajah sinisnya itu kembali, dan membentak-bentak aku dan Zarra lagi. Sungguh, bukan itulah yang kuharapkan jika aku benar-benar bertemu dengannya lagi. Aku harap, ia sudah bisa menerima kenyataan yang menimpa hidupnya, sekaligus membuatnya sadar bahwa yang namanya teman itu tak pernah mengenal derajat!
***
Yah, begitulah kejadiannya. Jujur, hingga kini aku masih mengharapkan pertemuanku dengan Farah, dan berharap aku akan menemui Farah yang berbeda; Farah yang sudah menerima kenyataan yang menimpa-nya.
    Aku membuka mataku perlahan, dan tersenyum lebar.
   “Nia? Lo ngapain senyum-senyum sendiri?” tanya Zarra yang kini telah berdiri di depan sebuah bus yang sudah berhenti di halte. Wah, gara-gara melamunkan masa lalu, aku jadi nggak sadar bahwa bus sudah ada di depan mata!
    Aku berdiri, dan berjalan mendekati Zarra. “Nggak. Nggak ada apa-apa, kok.”
   Zarra hanya mengangkat bahu, tak peduli. Kami pun naik ke atas bus dan duduk di kursi panjang paling belakang yang hanya diduduki oleh seorang gadis yang kini tengah menatap keluar jendela.
    “Ra, omong-omong, gue dengar lo lagi deket sama senior lo itu, ya?” aku mengerling jail pada Zarra.
    “Hah? Se-senior yang mana?” tanya Zarra, membetulkan letak kacamatanya.
    “Heheeiii, lo nggak usah bohong, deh. Gue tau kok, kalau lo itu lagi deket sama ...”
    BUG!
    Sesuatu tiba-tiba menghantam tumitku. Aku langsung merintih keras, begitu melihat buku tebal milik gadis di sampingku yang terjatuh menghantam tumitku.
    Gadis itu mengucapkan maaf berkali-kali, sembari mengambil bukunya yang terjatuh.
    Wajah gadis itu terlihat buram oleh mataku, karena aku menyimpan kacamata minusku di dalam tas. Segera saja, kuambil kacamataku dari dalam tas dan memakainya. Begitu melihat wajah gadis itu dengan lebih jelas, aku pun menjerit kaget begitu mengenali wajah tersebut.
    “FARAH?!” teriakku.
    Gadis itu tampak terkejut. “Eh, lo ... lo ... kok ... lo ... Nia?”
    “Ya ampun, Farah, apa kabar?” Zarra langsung menyapa Farah.
    Mendengar sapaan hangat dari Zarra, Farah terlihat kaget. “Lo ... Zarra kan?”
    “Iya, gue Zarra. Masa lo nggak inget, sih?” sahut Zarra.
    “Gue ... gue baik-baik aja, kok.” Kata Farah.
    “Lo udah nggak marah lagi kan, sama kami berdua?” tanyaku.
    “Untuk apa gue marah sama kalian? Kan gue yang salah. Dan ... maafin gue atas semua kesalahan gue yang dulu, ya. Terlebih untuk lo, Zarra. Maaf karena udah mengejek dan membentak lo dulu ....” jawab Farah.
    “Udah, nggak pa-pa, kok. Gue sama Nia udah maafin lo dari dulu-dulu!” sahut Zarra.
    Farah tersenyum tulus mendengarnya.
    “Oh ya, lo kuliah di mana?” tanyaku.
    Farah mulai terlihat rileks. “Gue kuliah di Fakultas Kedokteran UI.”
    “Wah, hebat! Oh ya, gue dan Zarra sama-sama masuk Fakultas Ekonomi UI ....” kataku, antusias.
    Setelah itu, kami pun mengobrol banyak. Tentang cita-cita, hobi, pacar, bahkan diri sendiri.
    Wah, harapanku akhirnya terkabul juga. Akhirnya oh akhirnyaa ... Farah berubah! Thanks, God!



***END***