Aku dan Zarra
berjalan bersisian menuju halte bus, dan duduk di kursi tunggu. Kulirik jam
tanganku dan melihat bahwa hari sudah menunjukkan pukul lima sore. Seusai
kuliah hari ini, aku berencana untuk pergi ke rumah Zarra untuk menyelesaikan
tugas esai yang belum selesai.
“Nia, lo masih inget nggak, sama Farah?”
tanya Zarra.
“Farah yang mana? Farah yang gue kenal kan
banyak banget.” Jawabku, mencoba mengingat-ingat.
“Farah temen SMA kita dulu ....” ujar Zarra.
“Hmm .. yang mana, sih?” aku kembali
memeras otak.
“Heelllooo ... Valenia, masa lo nggak
inget, sih? Farah yang suka ngejek gue dulu itu!” kata Zarra.
Mataku langsung melebar. “Oooh, dia!
Emangnya dia kenapa?”
“Nggak ada. Duduk di halte bus di sini
ngingetin gue sama kejadian dulu itu ....” jawab Zarra, sambil mengayun-ayunkan
kakinya yang tergantung.
Aku tersenyum. Memang, ada satu kejadian di
halte bus ini yang tak akan pernah kulupakan. Yah, meskipun peran utama dari
kejadian itu bukan aku, tapi aku juga terlibat dalam kejadian tersebut. Kutatap
langit yang memancarkan semburat kemerahan. Dalam sekejap saja, pikiranku sudah
menerawang pada kejadian masa lalu tersebut ...
***
‘Yeeeeyyyy!!! Akhirnya aku naik kelas tiga!!!’
aku bersorak dalam hati.
Kutatap gedung SMA Batavia—sekolahku—dengan
senyum yang mengembang di bibirku. Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah
setelah liburan panjang selama dua minggu. Bedanya, hari ini aku sudah kelas
tiga. Kelas yang penuh dengan hari-hari perjuangan,
yang menuntutku untuk tidak lengah lagi dalam hal pelajaran.
Akhirnya aku tiba di depan kelas baruku.
Kulangkahkan kakiku memasuki kelas tersebut. Raut wajahku yang mulanya ceria,
langsung berubah 90 derajat begitu melihat meja-meja yang sudah terisi oleh
para siswa yang sibuk mengobrol. Tatapanku langsung jatuh pada sebuah meja
kosong yang berada di pojok kelas—yang di sebelahnya duduk seorang gadis
berkacamata dengan rambut hitam panjangnya yang tergerai lurus. Ia tampak
tengah membaca buku dengan serius.
Aku berjalan menuju meja kosong tersebut
“Boleh gue duduk di sini?” tanyaku, menunjuk kursi di sebelah gadis tersebut.
Gadis itu menoleh, dan mengangguk kaku,
sebelum akhirnya kembali membaca bukunya.
Langsung saja, aku duduk di kursi tersebut.
Tiba-tiba, kulihat seluruh siswa yang berada di dalam kelas tengah menatapku
dengan raut wajah yang tak terbaca. Sedetik kemudian mereka sudah
berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arahku dan gadis di sebelahku,
dengan tatapan melecehkan.
Aku yang merasa tak enak, segera menjawil
bahu seorang cewek yang duduk di depanku. Ia me-noleh dan menatapku dengan
bingung. “Kenapa sih, mereka pada natap gue kayak gitu?” tanyaku, polos.
Cewek itu tersenyum simpul. “Mereka kasihan
sama elo karena lo udah duduk sama anaknya koruptor!” kemudian, ia tertawa
bersama teman sebangkunya.
Hah?! Anak koruptor?! Anak seorang koruptor
yang baru-baru ini menjadi obrolan hangat di TV?! Aku segera menoleh ke arah gadis
di sebelahku yang masih asyik membaca bukunya tanpa memedulikan ejekan cewek
tersebut. Tapi, bisa kulihat bahwa ia tengah berusaha untuk bersabar.
Aku menghela nafas panjang. Siswa di kelas
ini benar-benar aneh. Yang koruptor itu kan bapaknya, bukan anaknya! Kenapa
malah anaknya yang kena batunya? Kan belum tentu Si Anak punya jiwa koruptor
juga!
Aku memiringkan tubuhku, dan mengulurkan
tanganku untuk berkenalan. “Kenalin, nama gue Valenia Sartika Ningrum. Lo bisa
manggil gue dengan ‘Nia’ aja, kok ....”
Gadis itu menoleh dengan raut wajah yang
tampak terkejut. “Gu-gue, Maizarra Ranifah. Lo bisa manggil gue de-dengan nama
‘Zarra’ ...” ia menjawab dengan gugup, sambil membalas uluran tanganku.
“Ya ampun, lo kok mau-mau aja kenalan sama dia?”
tanya cewek di depanku.
“Problem?”
aku mengangkat sebelah alisku.
Cewek itu hanya merengut dan kembali
mengobrol bersama temannya.
“Maaf. Lo pasti malu kenalan sama orang
kayak gue ....” kata Zarra, menundukkan kepalanya.
“Udahlah, lo jangan merasa bersalah gitu.
Gue oke-oke aja kok, kenalan sama lo. Lagian, lo kan nggak salah ....” aku
menepuk bahunya dengan pelan.
Zarra langsung mengangkat kepalanya dengan
cepat. “Jadi lo nggak malu temenan sama gue? Makasih, ya. Sejak bokap gue masuk
penjara, gue nggak punya teman sama sekali ....” ia tersenyum tulus.
Aku balas tersenyum. “Nggak pa-pa, kok.”
#
Sejak hari
itu, aku selalu mengobrol dengannya, menemaninya ke kantin, meski hal itu bisa
membuatku dijauhi teman-teman sekelasku yang sekarang malah ikut-ikutan
mengejekku. Tapi, aku tak peduli. Menurut kamusku, teman tak mengenal derajat!
Karena akrab dengan Zarra, akhirnya aku
sadar bahwa Zarra itu orangnya friendly
dan polos banget! Dia juga orang yang jujur. Terlampau jujur malah. Dan ...
“VALENIA!”
Aku tersentak. Lamunanku pun buyar
seketika. Ya ampun, mampus aku! Sekarang kan lagi pelajarannya Bu Darmi, si
guru matematika paling killer yang
pernah aku temui! Dan disaat ia menerangkan, aku bisa-bisanya melamun?! Ya
ampuu ... nn. Aku pasti kena hukum!
“I-iya, Bu?” tanyaku, menatap wajah Bu
Darmi dengan raut cemas.
“Tolong katakan kembali apa yang saya
terangkan!” perintahnya.
Aku langsung panik kuadrat.
“Sst, Nia! Lo tinggal jelasin aja rumus
yang dipake dalam soal yang kita bahas sekarang ...” bisik Zarra, menggeser
kursinya untuk lebih dekat dengan kursiku.
“ZARRA! KAMU NGAPAIN?!” teriak Bu Darmi.
Zarra terkejut, tapi ia segera membalas, “Saya ... saya nunjukin dia, Bu.”
Aku melongo seperti orang bego, mendengar
kepolosan Zarra.
Wajah Bu Darmi langsung memerah menahan
amarah. “Kalau begitu, katakan kembali apa yang saya katakan tadi!”
Zarra berdiri, dan bergaya meniru Bu Darmi.
“VALENIA! Tolong katakan kembali apa yang saya terangkan!”
Spontan, semua siswa di kelasku tertawa
mendengarnya.
“Kamu kenapa malah mengucapkan apa yang
saya katakan pada Valenia tadi?!” tanya Bu Darmi, semakin berapi-api.
“Kan Ibu tadi nyuruh saya untuk mengatakan
apa yang Ibu katakan tadi ....” sahut Zarra, polos.
Aku langsung melengos. Ya ampun, Zarra ...
lo bego atau apa, sih?
#
Begitu jam
istirahat tiba, aku segera mengajak Zarra untuk belanja di kantin, seperti
biasanya. Dalam perjalanan menuju kantin, aku dan Zarra dihadang oleh seseorang
yang sangat tidak ingin kutemui hari ini; Farah, anak paling mantik dan Ratu Gosip di sekolahku.
“Nia, lo sadar nggak sih, siapa lo
sebenarnya?” tanya Farah.
“Tau. Gue temennya Zarra. Masalah buat lo?”
balasku.
“Heh! Elo itu anaknya direktur perusahaan
terkenal di Jakarta! Seharusnya lo nggak bergaul sama orang kayak dia! Udahlah
bapaknya koruptor, jangan-jangan dia juga punya jiwa koruptor! Hahahaha!” Farah
tertawa, bersama teman-temannya yang selalu mengikutinya ke mana pun ia pergi.
Zarra langsung tertunduk.
“Iya! Gue memang anaknya Pak Direktur! Tapi
gue nggak sesombong elo. Menurut gue, teman itu tak mengenal derajat! Sementara
lo? Orang yang mau temenan sama elo aja harus elo seleksi!” ketusku.
“Heh, elo jangan macam-macam sama gue, ya!
Sebaiknya lo hati-hati, karena temen lo yang satu ini bisa aja membuat elo
dicap sebagai pendukung koruptor sama seisi sekolah ini!” ancam Farah.
“Gue nggak peduli apakah Zarra anak
koruptor atau anak presiden sekali pun. Lagian, yang salah itu kan bapaknya!
Bukan Zarra!” aku menatap Farah, dingin.
Farah tersenyum sinis. “Fine! Lo kayaknya lebih milih anak
koruptor ini daripada kami. Tapi, gue sarankan sebaiknya lo cepat jauhin nih
anak, sebelum dia membuat elo malu!”
“Terima kasih atas sarannya, tapi maaf. Gue
lebih memilih bergaul sama orang yang baik-baik!” aku segera menarik tangan
Zarra menuju kantin, meninggalkan Farah bersama teman-temannya.
“Nia ... maafin gue, ya. Terima kasih juga
karena masih mau temenan ama orang kayak gue ....” kata Zarra, dengan kepala
masih menunduk. Ia tampak tengah menahan tangis.
“Udahlah, lo nggak usah minta maaf. Kan lo
nggak salah.” Ujarku.
“Nia,”
“Ya?” aku menoleh menatap Zarra.
“Ada yang mau gue ceritain ke elo.”
#
Believe it or not, tapi hari ini seisi sekolah benar-benar heboh! HEBOH! Oke, oke, slow down. Jadi gini, kemarin Zarra
cerita bahwa sebenarnya ayahnya tidak bersalah. Ayahnya telah dijebak oleh
temannya sendiri, yang mengakibatkan ia akhirnya dituduh menjadi seorang
koruptor.
Tapi, tentu kebohongan tak akan pernah bisa
tersembunyi. Lambat laun, akhirnya kebenaran ter-bongkar juga. Teman Ayah Zarra
tersebut akhirnya ditangkap polisi dan dihukum dengan hukuman yang berat. Ayah
Zarra pun akhirnya dibebaskan.
“Nia ...”
Dan ternyata oh ternyata, teman Ayah Zarra
tersebut ternyata Ayah Farah! Farah, yang biasanya selalu mengejek dan mencaci
Zarra, kini bertukar posisi dengan Zarra yang kini menjadi cewek populer di
sekolah. Farah-lah yang menjadi bahan ejekan seisi sekolah sekarang. Bahkan,
dayang-dayangnya dulu yang selalu setia mengikutinya, malah meninggalkannya dan
mulai berbaik-baik hati dengan Zarra untuk nebeng popularitas!
“Nia!”
Wah,
semuanya benar-benar terjadi begitu cepat dan di luar dugaan. Hmm, aku jadi
penasaran bagaimana reaksi Farah mengenai hal ini? Ia tentu menyadari bahwa
dirinya kini kena KARMA!
“NIA!!!”
Teriakan seseorang membuatku tersentak
kaget. “Eh, iya, iya.” Kutatap Zarra yang kini tengah du-duk di sebelahku.
Kini, kami tengah duduk di kursi tunggu halte, menunggu bus tiba. Arah rumahku
dengan rumah Zarra searah. So, hal
itu bisa membuatku selalu pulang bareng dengan Zarra tiap pulang sekolah.
“Tuh
liat,” Zarra menelengkan kepalanya ke kiri sedikit, memberi kode bahwa ada
seseorang di be-lakangku.
“KYYAAAAAAA!!!”
Belum sempat kuberbalik, aku mendengar
suara teriakan yang menggema. Aku segera berbalik, dan mendapati Farah tengah
berlari, menjauhi seekor angsa yang mengejarnya dengan sayap yang terbentang
lebar. Di belakang angsa tersebut, tampak seorang nenek tua mengejar angsa
tersebut dengan langkah yang tertatih-tatih.
Farah masih berlari ketika nenek pemilik angsa
itu berhasil menangkap angsa yang mengejar Farah. Tiba-tiba, kaki Farah
tersandung, dan ia pun terjatuh tepat di hadapanku.
Aku dan Zarra mencoba menahan tawa, lalu
membantu Farah untuk berdiri.
“JANGAN SENTUH GUE!!!” bentak Farah,
menepis tanganku dan tangan Zarra.
Aku dan Zarra hanya membeku.
Farah berdiri sendiri, lalu menatap Zarra
dengan tatapan membunuh. “PUAS?! Lo udah puas, kan? Lo pasti seneng kan,
ngeliat gue bertukar posisi sama elo! Lo pasti seneng kan karena orang yang
udah ngejek lo dulu, sekarang udah merasakan apa yang dirasakan lo dulu?! IYA
KAN?!” teriak Farah.
Zarra terkejut bukan main. “Farah, gue
nggak pernah berbahagia di atas penderitaan orang. Justru dari awal gue juga
nggak mau, kalau hal ini bisa terjadi sama elo ....”
“Alah! Ngaku aja kali, kalau lo itu seneng!
Gue bisa liat kok!” setelah berkata demikian, Farah berlari meninggalkanku dan
Zarra, setelah memperlihatkan raut wajah sinisnya yang membuat bulu kudukku
merinding, takut kalau ia sampai mencekikku.
“Ra, Farah kayaknya masih belum terima ya,
kalau dia itu sekarang kena karma? Jangan-jangan, dia nggak sadar kalau dia itu
udah kena karma!” kataku.
“Hus! Lo jangan bicara kayak gitu, dong!
Gue nggak tanggung jawab ya, kalau karmanya Farah bisa berpindah ke elo!” tegur
Zarra.
Aku hanya nyengir lebar.
#
Sejak kejadian
hari itu, Farah tak pernah lagi muncul di hadapanku atau pun Zarra. Dari info
yang aku dapat, Farah pindah ke kampungnya bersama mama dan kedua adiknya di
Pekanbaru.
Yah, aku rasa, kalau pun kami bertemu lagi,
mungkin ia akan memperlihatkan wajah sinisnya itu kembali, dan membentak-bentak
aku dan Zarra lagi. Sungguh, bukan itulah yang kuharapkan jika aku benar-benar
bertemu dengannya lagi. Aku harap, ia sudah bisa menerima kenyataan yang menimpa
hidupnya, sekaligus membuatnya sadar bahwa yang namanya teman itu tak pernah
mengenal derajat!
***
Yah, begitulah
kejadiannya. Jujur, hingga kini aku masih mengharapkan pertemuanku dengan
Farah, dan berharap aku akan menemui Farah yang berbeda; Farah yang sudah
menerima kenyataan yang menimpa-nya.
Aku membuka mataku perlahan, dan tersenyum
lebar.
“Nia? Lo ngapain senyum-senyum sendiri?”
tanya Zarra yang kini telah berdiri di depan sebuah bus yang sudah berhenti di
halte. Wah, gara-gara melamunkan masa lalu, aku jadi nggak sadar bahwa bus
sudah ada di depan mata!
Aku berdiri, dan berjalan mendekati Zarra.
“Nggak. Nggak ada apa-apa, kok.”
Zarra hanya mengangkat bahu, tak peduli.
Kami pun naik ke atas bus dan duduk di kursi panjang paling belakang yang hanya
diduduki oleh seorang gadis yang kini tengah menatap keluar jendela.
“Ra, omong-omong, gue dengar lo lagi deket
sama senior lo itu, ya?” aku mengerling jail pada Zarra.
“Hah? Se-senior yang mana?” tanya Zarra,
membetulkan letak kacamatanya.
“Heheeiii, lo nggak usah bohong, deh. Gue
tau kok, kalau lo itu lagi deket sama ...”
BUG!
Sesuatu tiba-tiba menghantam tumitku. Aku
langsung merintih keras, begitu melihat buku tebal milik gadis di sampingku
yang terjatuh menghantam tumitku.
Gadis itu mengucapkan maaf berkali-kali,
sembari mengambil bukunya yang terjatuh.
Wajah gadis itu terlihat buram oleh mataku,
karena aku menyimpan kacamata minusku di dalam tas. Segera saja, kuambil
kacamataku dari dalam tas dan memakainya. Begitu melihat wajah gadis itu dengan
lebih jelas, aku pun menjerit kaget begitu mengenali wajah tersebut.
“FARAH?!” teriakku.
Gadis itu tampak terkejut. “Eh, lo ... lo
... kok ... lo ... Nia?”
“Ya ampun, Farah, apa kabar?” Zarra
langsung menyapa Farah.
Mendengar sapaan hangat dari Zarra, Farah
terlihat kaget. “Lo ... Zarra kan?”
“Iya, gue Zarra. Masa lo nggak inget, sih?”
sahut Zarra.
“Gue ... gue baik-baik aja, kok.” Kata
Farah.
“Lo udah nggak marah lagi kan, sama kami
berdua?” tanyaku.
“Untuk apa gue marah sama kalian? Kan gue
yang salah. Dan ... maafin gue atas semua kesalahan gue yang dulu, ya. Terlebih
untuk lo, Zarra. Maaf karena udah mengejek dan membentak lo dulu ....” jawab
Farah.
“Udah, nggak pa-pa, kok. Gue sama Nia udah
maafin lo dari dulu-dulu!” sahut Zarra.
Farah tersenyum tulus mendengarnya.
“Oh ya, lo kuliah di mana?” tanyaku.
Farah mulai terlihat rileks. “Gue kuliah di
Fakultas Kedokteran UI.”
“Wah, hebat! Oh ya, gue dan Zarra sama-sama
masuk Fakultas Ekonomi UI ....” kataku, antusias.
Setelah itu, kami pun mengobrol banyak. Tentang
cita-cita, hobi, pacar, bahkan diri sendiri.
Wah, harapanku akhirnya terkabul juga.
Akhirnya oh akhirnyaa ... Farah berubah! Thanks,
God!
***END***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar